BerkahMu di setiap bait doamu (ibu)

Tahun 2011 adalah salah satu tahun bersejarah dalam hidup saya dimana pada tahun itu saya menyelesaikan seluruh rangkaian prosesi wisuda Strata satu. Lebahagiaan saya dan kedua orangtua saya tak terbendung sampai sampai ibu saya tidak mau kehilangan moment dengan menggandeng seorang potografer untuk mengabadikan moment langka saya.

Selama proses wisuda yang terpikir adalah bagaimana saya setelah diwisuda ketika itu ingin sekali rasanya bertahan di satu tempat uuntuk terus menimba iilmudanalasan terkuat untuk bertahan adalah ketidaksiapan menghadapi kenyataan hidup yang jauh dari dunia perkampusan, perpustakaan, diskusi bersama sahabat dan lingkaran yang selalu membuat kangen dan rindu.

Setelah terjadi mediasi dan lobi terhadap orang tua akhirnya semua keputusan harus saya terima bahwa ibu dan bapak yang kesehatannya waktu itu sudah mulai menurun dan orangtua menginginkan saya untuk kembali kepangkuan keluarga. Akhirnya saya kembali ke kampung halaman menjadi seorang sarjana pendidikan.

Hari-hari dan rutinitas yang terjalani mulai berbeda dan harus banyak menyesuaikan termasuk pertanyaan-pertanyaan orang-orang sekitar tentang saya yang sampai waktu itu saya belum juga kunjung mendapat pekerjaan. Disinilah ujian kesabaran itu dimulai, dengan kondisi kesehatan ibu yang mulai menurun ditambah dengan pertanyaan -pertanyaan yang membuat ibu selalu termenung dan sedih bahkan kadang meneteskan airmata karena memikirkan anaknya yang sarjana tak kunjung bekerja.

Usaha demi usaha saya lalui sehari bisa lima surat lamaran yang melayang demi ikhtiar menyambut takdir. Setiap mengantar surat lamaran pekerjaan saya selalu langsung mendapat jawaban "maaf lowongan sudah penuh" dan ketika pulang ibu dengan penuh harap menunggu di depan rumah dan berharap mendapat jawaban yang menyenangkan hatinya, dengan isyarat menggelengkan kepala beliau langsung paham dan berlalu sambil kadang lihat matanya sedikit berkaca. Saat itu sungguh masa-masa yang berat ternyata ada yang lebih berat dari sekedar menyusun skripsi hati saya membatin saat itu. Terus sampai kapan akan terus seperti ini?

Tahun 2012 menghampiri beberapa bulan sudah terlewati dengan fokus menjadi penjaga "gawang" mengurus rumah dan orang tua dan tetap berusaha menata hati da pikiran agar tetap berpikir positif bahwa tahun ini semoga ada jawaban dari doa-doa yang terlantun.  Allah kemudian membuka jalanNya di tahun yang sama ada salah satu sekolah swasta yang membuka lowongan pekerjaan namun kali ini sekolahnya lintas kecamatan dan lokasinya agak jauh dari rumah.  Setelah berdiskusi dan konsultasi dengan ibu dan bapak akhirnya "bismillah" saya coba mengantar surat lamaran tersebut.  Setelah melalui proses seleksi yang ketat akhirnya tiba waktu pengumuman danalhamdulillahnama saya ada di urutan ke dua. Tanpa menunggu waktu saya langsung memberikan labar bahagia tersebut ke orang tua, ibu langsung sumringah bahagia langsung terlihat senyum yang beberapa bulan hampir tak pernah terlihat. Alhamdulillah atas segala jawaban doa-doa yang terucap.

Sejak menjadi seorang guru dari sekolah swasta yang fullday yang berangkat dari rumah pagi buta dan pulang ketika senja tiba terbitlah rasa dimana waktu untuk keluarga mulai berkurang dengan kondisi kesehatan ibu yang semakin saja menurun sampai pada suatu hari ibu harus dirawatbdi rumah sakit untuk menjalani perawatan.  Disitulah naluri saya sebagai seorang anak semakin memberontak untuk kemudian melepas pekerjaan dan ingin fokus mengurus ibu, setiap kali perbincangan tentang niatan untuk resign dari pekerjaan beliau selalu mengingatkan seraya menepuk pundak dan mengatakan dengan lirih" nak bertahanlah di tempat kamu mengajar sekarang adalah jawaban dari setiap doa dalam sejud malamku,  kelak engkau akan sangat banyak belajar dari tempat yang ibu yakin Allah ridhoi dan berkahi" dan selalu perbinacangan itu ditutup dengab senyum menguatkan dan saya selalu adem setelah kata-kata itu

Akhir 2012 kesehatan ibu semakin menunjukkan tidak ada perubahan sampai kami sekeluarga berikhtiar menggunakan pengobatan alternatif namun memang sudah saatnya Allah memanggil ibu ke pangkuan sang ilahi... Innalillahiwainna ilaihi rojiun.. Ibu telah kembali dengan husnul khotimah. Saya dan kakak perempuan saya menjadi saksi atas kebaikan beliau, untuk pertama kalinya saya dan kakak permpuan saya menyaksikan langsung tahapan sakratul maut... Masya allah dalam sekejap saja Allah bisa menghilangkan nyawa dari raga seorang makhluk. Sejak saat itu sayabselalu terngiang dan menjadi pelajaran berharga atas kisah hidup beliau yang seorang ahli ibadah yang selalu tak pernah lupa mengingatkan kami anak-anaknya untuk terus menggantungkan hidup hanya kepada Allah,  menyandarkan semuanya hanya kepada Allah.

Hari-hari saya lalui dan jalani peran sebagai seorang guru di sekolah tempat saya mengajar sekarang selalu Allah mudahkan dan benar saja nilai "berkah" yang selalu ibu ucapkan kepada saya selalu membuat saya terangguk angguk mengiyakan...di sini di tempat inilah hidup saya perlahan mulai berubah menjadi lebih baik,  banyak orang yang menjadi penasehat diri saya ketika salah,  ketika lelah ada yang menawarkan bantuan ketika lemah ada sahabat, rekan seperti saudara kandung yang dengan ikhlas selalu mendoakan.  Disinilah saya banyak belajar, terus termotivasi untuk menjadi yang terbaik melutuskan niat disetiap langkah dan memastikan semuanya hanya karena Allah.
Alhamdulillah rasa syukur selalu terhulur kepadaMu ya Robb atas segala nikmatmu, melahirkan saya melalui ibu yang luar biasa. Terima kasih ibu kini setiap bait doamu akan selalu menjadi pelipur lara dan menyertai setiap langkah saya...
Alllahummagfirlahum warhamhum waafihim wa'fuanhum.
Ragamu memang telah perg namun semangat dan harapanmu trlah tumbuh subur dalam sanubari ini.
Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di JannahNya.. Aamiin

Komentar

  1. "Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di JannahNya...."
    Bersama ibuk, bapak., saudara dan setiap orang yang mencintaiku dan aku mencintai mereka.
    aamiin.. ^^
    .
    Semoga Allah mengumpulkan kita kembali di JannahNya.. Aamiin

    BalasHapus
  2. Semoga Allah menjamu ibu dengan sebaik-baik. Jamuan. Dan setiap kebaikan yg kita terima bisa jadi adalah doa orgtua kita yg dikabulkan

    BalasHapus
  3. Semoga Allah beratkan timbangan amal kebaikan untuk beliau.. Aamiin..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku Games For Islamic Mentoring

Samudra syukur

Resensi Buku Dalam Dekapan Ukhuwah