KARENA KAU PELETAK "BATU" PERTAMA



Ketika tahun kedua menjadi seorang wali kelas di sebuah sekolah swasta, pengalaman demi pengalaman terus terurai, sedih senang kulalui, semakin banyak belajar dari rangkaian demi rangkaian peristiwa dilalui. Begitulah menjadi guru, sesungguhnya ketika kita memutuskan menjadi guru bukan saja tentang menyampaikan dan mentransfer ilmu namun seungguhnya seorang guru juga sedang belajar dari anak-anak didiknya.
Ketika pada suatu hari, salah satu siswa istimewaku bernama hikatri mengalami tantrum karena mainannya dirusak oleh temannya akhirnya siswaku tersebut membanting semua benda yang ada di sekitarnya dan menghantam semua buku yang tertata rapi di meja kerjaku, setelah beberapa puluh menit aku berusaha menenangkan, bermediasi  akhirnya salah satu rekan menyarankan berdasarkan buku yang pernah dia baca salah satu cara mengatasi anak yang tantrum adalah dengan membasahi seluruh badannya. Karena sudah tidak ada jalan keluar lain saat itu akhirnya aku mengiyakan untuk mencoba cara tersebut. Akhirnya dengan bantuan beberapa teman, kami  menggendong siswaku menuju kamar mandi.
Sampai di kamar mandi karena dia (siswaku)sudah tahu bahwa akan dimandikan akhirnya sambil menangis dan memelas “ustdzah kumohon jangan” ‘aku tidak mau” aku mau mainanku” namun karena pikirku waktu agar dia bisa mengerti tentang konsekwensi dari sebuah perbuatan akhirnya batinku mengatakan ini harus diakhiri dengan baik, lagi-lagi aku berpikir waktu itu inilah mungkin jalan keluarnya.
Satu gayung air mulai membasahi badannya yang mungil dengan masih menggunakan seragam lengkap beserta jilbabnya dia mulai berteriak “tidaak...kumohon ustdzah maafkan aku” aku mau mainanku” namun aku melanjutkan dengan air gayung kedua dan sambil saat itu aku mengatakan  ustdzah sayang sama hikari” akhirnya teriakannya semakin kencang dan dia berusaha melarikan diri namun kami tahan,  beberapa gayung air terus membasahi sekujur tubuhnya dengan meneteskan air mata dia berteriak “aku benci ustdzah lasmi” . bagai disambar petir aku terdiam membeku sejenak dan mengakhiri guyuran air ke badannya, sambil dia melarikan diri kembali ke kelas meninggalkanku yang terdiam membeku.
Aku kembali ke kelas dengan perasaan yang kacau dan tak menentu, kalimat yang dia ucapakan terakhir membuatku  sangat terpukul dengan menimbulkan pertanyaan besar dalam hati”apakah yang aku lakukan ini adalah langkah yang benar? Astagfirullah batinku beristigfar.
Sesampai di kelas aku menemukannya sudah menggunakan tas dan memasang sepatu “aku mau ummi” aku mau pulang” aku benci ustadzah lasmi” tak mau lagi sama ustdzah lasmi” kalimat itu terus dia ucapkan sambil berlalu berlari mencari umminya. Akhirnya setelah  umminya datang dia pulang tanpa mau bersalaman dan berpamitan denganku, subhanallah aku patah hati saat itu, untuk pertama kalinya dia tidak mau jangankan bersalaman memandang wajahku pun dia tidak mau.
Keesokan harinya, ketika dia baru saja tiba di sekolah yang awalnya selalu mencariku, hari itu dia sama sekali tidak mau masuk kelas , kejadian kemarin sungguh sangat membekas di hatinya. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatiku. Butuh beberapa hari untuk membuatnya kembali lagi belajar bersamaku. Ini adalah pelajaran berhargaku.
Setelah kejadian itu mengembalikan perasaan awalnya adalah sesuatu yang butuh tenaga dan pikiran lebih, apalagi dia(hikari) adalah siswa istimewaku. Kejadian itu sungguh sangat membuatku semakin menyadari kekuranganku sebagai seorang guru dan kejadian itu menyadarkanku sesadar sadarnya untuk terus berbenah dan mengingatkan diri sendiri bahwa menjadi guru adalah bukan hanya sebagai pengajar namun sebagai peletak batu pertama setiap apapun itu, entah itu pelajaran, karakter, emosi, sosial maka setiap guru haru menyadari dan harus sangat berhati-hati meletakkan sesuatu pada tempatnya termasuk memberikan apresiasi dan konsekwensi ketika peristiwa demi peristiwa di dalam proses mencetak generasi di lakukan. Wahai engkau guru agen perubahan, seriussilah peranmu karena kau peletak batu pertama karakter bangsa ini, menjadilah yang terbaik dalam proyek peradaban karena yang kau tanam hari ini akan kau tuai di kemudian hari. Jayanya bangsa negeri ini ada di tanganmu para pejuang pendidikan.
Teruslah belajar!!
 

Komentar

  1. Baru tau tips untuk mengatasi anak tantrum mba. Trus lanjutannya gimana? Masih marah kah si Hikari?

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah sekarang hikari sudah kelas 5, kejadiaannya saat kelas 1 ....salah satu penyesalan saya hingga kini adalah melakukan tips itu....semoga Allah mengampuni saya..

      Hapus
  2. Guru pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa guru apalah diri kita ini? πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. semakin kerasa perjuangannya membayangkan diri ketika dulu menjadi siswa....

      Hapus
  3. Menjadi seorang guru membutuhkan kesabaran yang ekstra besaaarrr..aku selalu salut denfan dedikasi para guru yg telalten dan sabar setiap menghadapi murid2nya yang luar biasa

    BalasHapus
  4. Saya jadi ingat anak didik yg persis gtu mbakne, dia anak istimewa ketika salah makan coklat dan tntrumnya kumat semua orang di amukny sampai saya juga hampir ga bisa menanggulangi, tp ketika kena dr kejar2an mgkin hampir 30 menitan lebih untung masih mau tenang dengan pelukan. Emang harus hati2 bgt menangani anak istimewa. Bedany ank istimewa ny mbk sm ank istimewanya saya dia kurang dpt perhatian saat itu dr kedua ortuny. Yaa Allah putra semoga tambah pinter dan jadi anak sholeh😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mb bener.... mereka sangat butuh belaian dan pelukan tulus dari kiat guru-gurunya

      Hapus
  5. Waah.. ilmu baru, meski saya juga pengajar tapi belum pernah mengalami hal yang demikian. Beruntung mba..dapat pelajaran dan hikmah berharga..dari kejadian itu pasti jadi belajar banyak mengatasi tantrum..

    BalasHapus
  6. Ya Allah, saya gak tau apakah benar memandikan anak yang tantrum bisa meredakan tantrumnya.. Tapi saya pernah melakukannya pada anak saya. Saat masih kecil. Tapi setelah saya mandikan trus saya ganti bajunya, saya bedakin, kasih minyak telon lalu saya peluk dan Elus Elus dan minta maaf padanya. Biasanya dia akan tertidur dalam pelukan saya. Dan terus saya peluk sampai sayapun ikut tertidur. Tak perduli bagaimana berantakannya rumah. Wih jadi meloww.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar-benar harus banyak belajar ya...menjadi guru bagi anak-anak dan murid-murid kita

      Hapus
  7. Masya Allah ilmu parenting 😍

    BalasHapus
  8. Semangatt ustazah πŸ”₯πŸ”₯πŸ’ͺπŸ’ͺ insyaAllah berkah ilmu dan perjuangannya

    BalasHapus
  9. Dimanapun guru berada, beliau tetaplah seorang guru, perilaku dan tindakannya akan di gugu dan di tiru

    BalasHapus
  10. Ilmu parenting ya😁 belum nikah sih, tapi Insyaa Allah bermanfaat buat nantiπŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. jodoh belum datang = semakin banyak waktu mengumpulkan bekal dan ilmu menghadapi segala sesuatunya....

      Hapus
  11. Masya Allah, ilmu parentingnya dahsyat. Saya yang hanya seorang ibu pun butuh belajar banyak dari sosok guru. 😊

    BalasHapus
  12. Guru... di gugu lan di tiru artinya di anut dan di tiru. Aku dulu juga kuliah di ilmu keguruan mbak, karena suatu alasan aku tidak bisa masuk sekolah untuk mengajar. Akhirnya aku putuskan, walaupun tidak di sekolah aku harus mengajar agar ilmu ku tidak hilang, aku mengajar di salah satu bimbel. Rasanya ingin masuk sekolah, namun terlalu nyaman menjadi tentor di bimbel. Hehehehe.. 😁😁karena menurut ku guru di bimbel dan di sekolah itu beda sekali, guru di sekolah ada amanah dan ketulusan hati untuk membentuk karakter anak, kalau di bimbel guru di tuntut untuk. Menaikkan grade atau nilai, walaupun kadang anak anaknya meremehkan. Pokok bisa bertemu dengan mereka dan sedikit membagi ilmu kepada mereka, aku sudah bahagia mbak.... 😁

    BalasHapus
  13. Ustazah, temannya yang rusakin mainan Hikari akhirnya diapain?

    BalasHapus
  14. Baru tahu mengatasi tantrum dengan cara ini mbak.. Selama ini setahu saya yang masih amatir, salah satu mengatasi tantrum dengan memeluk anak tsb, untuk mengalirkan emosinya.
    Profesi saya bukan guru, tapi saya bertekad untuk menjadi guru pertama dan terbaik. anak-anak, Semangat πŸ’ͺ

    BalasHapus
  15. Guru.terbaik adalah yang ditunjukkan alam semesta..
    Lewat berbagai kejadian yang kita saksikan tiap hari πŸ™

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review buku Games For Islamic Mentoring

Samudra syukur

Resensi Buku Dalam Dekapan Ukhuwah